Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah seorang guru ekonomi
Tampilkan postingan dengan label Kelas XI Semester 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas XI Semester 1. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2020

BAB V. KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL

 (Link download materi format word berada paling bawah pada artikel ini)


A.    KEBIJAKAN MONETER

1.      Pengertian kebijakan moneter

Kebijakan moneter adalah kebijakan yang diberlakukan pemerintah (Bank Indonesia) untuk mempertahankan, menambah atau mengurangi jumlah uang beredar.

2.      Peran dan Fungsi Kebijakan Moneter

a.       Peran kebijakan moneter

1)      Mencapai target pertumbuhan ekonomi pada berbagai sektor ekonomi

Kebijakan moneter yang dilakukan untuk menjaga kestabilan nilai rupiah berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi padaberbagai sektor ekonomi. Nilai tukar yang stabil dapat menstabilkan harga dan inflasi.

2)      Menjaga kestabilan ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi

Stabilitas ekonomi dapat tercapai apabila pertumbuhan ekonomi berlangsung secara terkendali dan berkelanjutan. Pertumbuhan arus barang / jasa serta perputaran uang berlaku secara berimbang. Untuk mencapai keseimbangan antara pertumbuhan arus barang / jasa dengan tingkat perputaran uang, bank sentral perlu mengatur jumlah uang beredar.

3)      Menjaga stabilitas harga untuk mengurangi inflasi

Jumlah uang yang beredar yang melebihi kebutuhan akan menyebabkan harga barang / jasa mengalami kenaikan atau inflasi. Inflasi ini akan berdampak pada turunnya nilai mata uang karena daya beli konsumen akan menurun. Jumlah uang yang beredar pada masyarakat memberi pengaruh pada tingkat harga yang berlaku. Dengan tingkat harga yang stabil, daya beli masyarakat akan terjaga. Daya beli masyarakat yang stabil dapat mendorong keadaan ekonomi yang kondusif dan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi.

4)      Meningkatkan kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan

Perekonomian yang stabil menimbulkan dampak positif bagi iklim investasi atau iklim usaha. Kondisi ini akan menarik investor mengembangkan investasi baru dinegara tersebut. Pertumbuhan investasi meningkat, produksi juga meningkat sehingga membuka kesempatan kerja baru melalui pendirian berbagai pabrik atau pun perusahaan. Peningkatan produksi juga berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan karyawan. Pendirian pabrik atau perusahaan baru dapat memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.

5)      Memperbaiki neraca pembayaran dan neraca perdagangan

Kebijakan moneter dapat berpengaruh terhadap neraca pembayaran, misalnya kebijakan devaluasi. Devaluasi menyebabkan harga produk diluar negeri menjadi lebih murah jika dibeli dengan mata uang asing. Dengan devaluasi, nilai ekspor akan meningkat dan nilai impor akan menurun. Kebijakan devaluasi dapat memperbaiki posisi neraca perdagangan luar negeri ke posisi seimbang atau surplus.

3.      Instrumen kebijakan moneter

a.       Operasi pasar terbuka (Open Marketing Operation)

Pada operasi pasar terbuka, Bank Indonesia (BI) dapat menjual atau membeli suart berharga seperti Sertifikat bank indonesia (SBI). Apabila terjadi kelebihan jumlah uang beredar, bank indonesia akan menjual surat-surat berharga kepada masyarakat sehingga mengurangi jumlah uang beredar.

b.      Kebijakan diskonto (Discount Rate Policy)

Kebijakan diskonto merupakan kebijakan untuk menambah dan mengurangi jumlah uang beredar dengan menaikkan suku bungan Bank.

c.       Penentuan cadangan kas (Cash Ratio)

Penentuan cadangan kas menrupakan kebijakan bank indonesia untuk menambah atau mengurangi jumlah uang beredar dengan menaikkan atau menurunkan cadangan kas minimum bank umum. Apabila bank indonesia menaikkan cadangan kas bank umum, berarti bank indoensia ingin mengurangi jumlah uang beredar.

d.      Kebijakan kredit selektif

Kebijakan kredit selektif merupakan kebijakan kebijakan mengurangi jumlah uang beredar dalam masyarakat dengan menentukan syarat-syarat yang ketat untuk memperoleh pinjaman (kredit).

Syarat-syarat dalam pemberian kredit harus memperhatikan prinsip 5 C sebagai berikut :

1)      Character (karakter), berkaitan dengan sifat dan kepribadian calon peminjam (debitur)

2)      Collateral (jaminan), berkaitan dengan jaminan yang dimiliki calon peminjam (debitur) untuk mengajukan kredit

3)      Capital (modal), berkaitan dengan kemampuan calon debitur untuk menghasilkan modal sendiri dalam menjalankan kegiatan usahanya

4)      Capacity (kapasitas), berkaitan dengan kemampuan debitur dalam mengembalikan pinjaman.

5)      Condition of economy (kondisi ekonomi), berkaitan dengan kondisi perekonomian yang sedang terjadi dalam masyarakat suatu negara.

e.       Imbauan moral (moral persuasion)

Imbauan moral merupakan cara bank indonesia untuk mengendalikan jumlah uang beredar dengan mengarahkan atau menghimbau lembaga perbankan dan masyarakat. Imbauan moral dilakukan bank indonesia melalui media masa, pengunguman atau pidato untuk mempengaruhi lembaga moneter dan individu atau masyarakat yang bergerak dibidang moneter.

f.       Kebijakan devaluasi dan revaluasi

Devaluasi merupakan kebijakan menurunkan kurs mata uang rupiah terhadap mata uang asing yang bertujuan memperbaiki neraca pembayaran. Dengan kebijakan devaluasi diharapkan harga barang ekspor menjadi relatif lebih murah diluar negeri sehingga nilai ekspor meningkat. Revaluasi merupakan kebijakan menaikkan kurs mata uang rupiah terhadap mata uang asing. revaluasi dilakukan apabila nilai kurs dianggap terlalu rendah. Kebijakan ini diambil ketika pemerintah ingin menaikkan impor dan menurunkkan ekspor.

4.      Dampak kebijakan mineter terhadap perekonomian

Kebijakan moneter berperan penting dalam pengaturan kegiatan ekonomi suatu negara terutama negara sedang berkembang. Khususnya saat inflasi, melalui kebijakan moneter, bank indonesia dapat mengendalikan jumlah uang beredar untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan kestabilan harga. Kebijakan moneter ditujukan untuk menjaga agar likuiditas dalam perekonomian berada dalam jumlah sesuai kebutuhan sehingga harga transaksi perdagangan berlangsung lancar tanpa menimbulkan tekanan inflasi.

B.     KEBIJAKAN FISKAL

1.      Pengertian Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal (fiscal policy) atau kebijakan anggaran diartikan sebagai tindakan pemerintah dalam bidang anggaran belanja negara untuk mempengaruhi jalannya perekonomian. Kebijakan fiskal dapat diartikan sebagai kebijakan pemerintah dalam mengatur penerimaan dan pengeluaran negara untuk mempengaruhi perekonomian nasional. Kebijakan fiskal berhubungan erat dengan pendapatan dan pengeluaran negara atau APBN. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran negara dan pajak. Dengan kebijakan fiskal pemerintah dapat mengupayakan terhindarnya perekonomian dari keadaan yang tidak diinginkan seperti pengangguran, inflasi dan neraca pembayaran internasional.

2.      Peran dan Fungsi Kebijakan Fiskal

a.       Peran Kebijakan Fiskal

1)      Meningkatkan produksi nasional (PDB) dan pertumbuhan ekonomi

Pada saat perekonomian mengalami kelesuan, jumlah produksi nasional cenderung menurun. Kelesuan ekonomi disebebkan turunnya daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat turun, barang dan jasa yang diproduksi produsen akan dikurangi sehingga produksi nasional mengalami penurunan. Saat mengalami kelesuan ekonomi (resesi) pemerintah akan menambah jumlah anggaran belanja untuk membeli barang dan jasa. Anggaran yang telah ditambahkan pemerintah dapat meningkatkan produksi suatu perusahan sehingga produksi nasional juga meningkat. Apabila produksi nasional meningkat. Pertumbuhan ekonomi sangat berpengaruh pada kebijakan fiskal yang terwujud dalam APBN.

2)      Memperluas kesempatan kerja dalam rangka mengatasi pengangguran dan kemiskinan

Pengeluaran pemerintah dialokasikan untuk menyediakan sarana dan prasarana sosial ekonomi yang bertujuan menciptakan lapangan pekerjaan serta meningkatkan usaha produktif. Dengan kebjakan fiskal, pemerintah dapat memusatkan pembangunan di daerah pedesaan. Pemerintah juga dapat mendorong industri rumah tangga melalui pemberian modal atau pelatihan bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kebijakan pemerintah tersebut dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

3)      Menstabilkan harga-harga barang

Penurunan pada harga-harga umum akan mendorong timbulnya pengangguran karena sektor usaha swasta akan merugi. Investasi yang dilakukan swasta akan berkurang. Sebaliknya, harga-harga umum yang terus meningkat (inflasi) akan mengakibatkan dampak buruk. Inflasi dapat memberikan keuntungan pada beberapa kelompok orang, tetapi bagi orang yang berpenghasilan tetap dan rendah akan dirugikan.

4)      Menciptakan pemerataan distribusi pendapatan

Penerimaan negara yang optimal mengindikasikan dana untuk melakukan pembangunan dalam kondisi cukup atau berlebih. Apbila dana pajak dioptimalkan tentu akan mencukupi kebutuhan pembangunan indonesia, terutama pembangunan daerah terpencil dan tertinggal. Kemampuan keuangan daerah tersebut rendah sehingga sebagian besar masih mengandalkan dana pembangunan yang berasal dari pemerintah pusat melalu dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK). Dengan demikian pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik yang dianggarakan dari APBN, kondisi perekonomian masyarakat akan mengalami kenaikan. Dengan demikian, kesenjangan pendapatan antara masyarakat daerah satu dengan daerah lainnya dapat dikurangi.

b.      Fungsi kebijakan fiskal

1)      Fungsi alokasi

Fungsi alokasi bertujuan mendorong terciptanya efesiensi perekonomian dan stimulus pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Kebijakan fiskal berperan aktif mengalokasikan faktor-faktor produksi dalam masyarakat sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi dan berdampak positif terhadap perekonomian.

2)      Fungsi distribusi

Fungsi distribusi berkaitan dengan sarana distribusi kemakmuran, mengurangi kesenjangan, serta mewujudkan keadilan ekonomi dan pembangunan.

3)      Fungsi stabilisasi

Fungsi stabilisasi bertujuan mendorong terwujudnya stabilisasi fundamental perekonomian. Fungsi stabilisasi dimaksudkan untuk memelihara keseimbangan ekonomi terutama perluasan kesempatan kerja, kestabilan harga barang pokok dan tingkat pertumbuhan ekonomi.

3.      Instrumen kebijakan nasional

a.       Pajak

Pengaruh pajak terhadap kebijakan fiskal, jika pajak diturunkan, maka daya beli masyarakat akan meningkat. Hal ini berdampak positif bagi sektor perekonomian lain seperti industri. Namun demikian, kebijakan tersebut akan mengurangi penerimaan negara dari sektor pajak. Jika pajak dinaikkan juga akan berpengaruh langsung dengan semakin mahalnya harga di pasar. Disinilah kebijakan fiskal diterapkan untuk mendapatkan langka terbaik mengatasi permasalahan ekonomi.

b.      Belanja pemerintah

Pemerintah memiliki pos anggaran pengeluaran (anggaran belanja) yang diatur dalam APBN, seperti pos belanja gaji pegawai dan pos belanja pembelian barang dan/atau jasa. Dengan pengaturan belanja negara, pemerintah mengendalikan kondisi perekonomian. Saat terjadi kelesuan perekonomian, pemerintah akan menaikkan gaji pegawai negeri. Kenaikan tersebut ditujuan untuk meningkatkan permintaan agregat masyarakat.

c.       Subsidi

Subsidi merupakan pemberian insentif dari pemerintah dalam pembentukkan harga barang bagi masyarakat. Kebijakan ini ditempu pemerintah dalam upaya pengendalian harga untuk melindungi produsen ataupun konsumen sekaligus menekan laju inflasi.

d.      Pinjaman publik

Pemerintah membutuhkan dana untuk meningkatkan kualitas perekonomian melalui pembangunan infrastruktur atau pengadaan barang. Adakalanya pendapatan pajak atau sumber pendapatan negara lainnya tidak dapat memenuhi. Oleh karena itu, pemerintah harus mengambil langka untuk meminjam dana yang disebut pinjaman publik.

4.      Jenis-jenis kebijakan fiskal

a.       Kebijakan anggaran seimbang

Merupakan kebijakan dengan menyusun penerimaan dan pengeluaran sama besar

b.      Kebijakan anggaran defisit

Merupakan kebijakan dengan menyusun pengeluaran lebih besar daripada penerimaan yang berakibat negara mengalami defisit anggaran

c.       Kebijakan anggaran surplus

Merupakan kebijakan dengan menyusun penerimaan lebih besar daripada pengeluaran

d.      Kebijakan anggaran dinamis

Merupakan kebijakan dengan cara menambah jumlah penerimaan dan pengeluaran yang semakin besar (tidak statis).

5.      Dampak kebijakan fiskal terhadap perekonomian

Kebijakan fiskal akan berpengaruh terhadap perekonomian melalui penerimaan dan pengeluaran negara. Kondisi ini dapat dilihat dari selisi antara penerimaan dan pengeluaran maupun jenis sumber penerimaan negara dan bentuk kegitatan yang dibiayai oleh pengeluaran negara. Sumber-sumber penerimaan negara berasal dari pajak dan berbagai pungutan yang dipungut pemerintahdari perekonomian dalam negeri. Pengeluaran negara merupakan semua pengeluaran untuk keperluan tugas pemerintah dan pembiayaan berbagai proyek disektor negara ataupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam penghitungan penerimaan dan pengeluaran negara akan diperoleh anggaran surplus dan defisit APBN. Apabila anggaran surplus dalam APBN, akan terjadi peningkatan kegiatan perekonomian yang besarnya tergantung pada pengaruh anggaran surplus tersebut. Anggaran surplus membayar utang pemerintah dan program pembangunan lain. Apabila terjadi defisit, dapat biaya dengan pinjaman luar negeri atau dalam negeri. Sumber-sumber pinjaman dalam negeri diperoleh dalam bentuk pinjaman perbankan dan nonperbankan yang mencakup penerbitan obligasi negara dan privatisasi. Pengeluaran pemerintah yang disalurkan secara tepat, berdampak pada meningkatnya perekonomian suatu negara seperti pelaksanaan pembangunan fasilitas publik. Fasilitas penting lainnya juga dapat merata apabila alokasi pengeluaran pemerintah tepat sarsaran. Pengeluaran pemerintah lainnya juga berdampak pada peningkatan distribusi pendapatan melalui peningkatan gaji pegawai negeri. Kebijakan fiskal perlu diperhatikan agar kegiatan ekonomi tetap stabil dan tidak memicu krisis ekonomi.


Klik untuk mendownload materi format word

Senin, 24 Agustus 2020

KELAS XI ( BAB IV. INDEKS HARGA DAN INFLASI )

Link download format word berada paling bawah pada artikel ini

A.     INDEKS HARGA

1.      Pengertian Indeks Harga

Indeks harga merupakan proses pengukuran dan perbandingan tingkat perubahan harga barang dari waktu ke waktu

2.      Tujuan Penghitungan Indeks Harga

Secara umum

a.       Mengetahui perkembangan harga barang dan/atau jasa yang termuat dalam diagram timbangan IHK (indek harga konsumen)

b.      Sebagai pedoman menentukan kebijakan ekonomi pada masa yang akan datang

c.       Sebagai data acuan dalam menentukan penyesuaian upah minimum

d.      Memudahkan pemantauan penawaran dan permintaan barang

Dalam perekonomian suatu negara :

a.       Alat bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan harga pada masa mendatang

b.      Alat untuk membandingkan kemajuan ekonomi suatu negara pada masa kini dan masa sebelumnya

c.       Sebagai dasar mengetahui faktor-faktor penyebab kemajuan dan/atau kemunduran perekonomian negara

d.      Sebagai dasar menetapkan pola kebijakan ekonomi secara agregat dan kebijakan moneter.

3.      Macam-macam Indeks Harga

a.       Indeks Harga Konsumen (IHK)

IHK merupakan salah satu indikator ekonomi yang menginformasikan tentang barang dan/atau jasa yang dibayar konsumen. Perhitungan IHK untuk merekam perubahan harga beli ditingkat konsumen dari kelompok tetap barang dan/atau jasa yang dikonsumsi masyarakat. Bagi.

Bagi pemerintah, IHK digunakan sebagai dasar penyesuaian gaji, upah, uang pensiun dan kontrak lainnya.

Ciri IHK :

Ø  Mengukur harga barang dan/atau jasa yang dibeli konsumen

Ø  IHK meliputi barang dan/atau jasa domestik dan barang impor]

Ø  Komponen biaya bunga dalam IHK mewakili biaya perumahan

b.      Indeks Harga Produsen (IHP)

Indeks harga produsen atau indeks harga pedagang besar (IHPB) diartikan angka indeks yang menggambarkan tingkat perubahan harga ditingkat produsen. Penggunaan data IHP dapat memanfaatkan perkembangan harga produsen sebagai indikator harga grosir ataupun harga eceran. Data IHP juga digunakan untuk membantu penyusunan neraca ekonomi (PDB/PDRB), distribusi barang dan margin perdagangan.

Ciri-ciri IHP antara lain :

Ø  Mengukur tingkat harga barang yang dibeli produsen meliputi bahan mentah, barang setengah jadi atau pun bahan pembantu

Ø  Mengukur indeks harga pada awal sistem distibusi atau penyaluran barang dan/atau jasa serta

Ø  Sebagai indikator perkembangan siklus bisnis dalam suatu negara

c.       Indeks Harga yang Harus Dibayar dan Diterima Petani

Indeks harga yang dibayar petani adalah indeks yang mengukur rata-rata perubahan harga dalam suatu periode atas jenis dan/atau jasa, biaya produksi dan penambahan barang modal, serta konsumsi rumah tangga di perdesaan dengan dasar periode tertentu. indek harga ini juga untuk mengetahui harga barang yang dibutuhkan petani dalam melakukan kegiatan pertanian.

Indeks harga yang diterima petani adalah indeks yang mengukur rata-rata perubahan harga dalam suatu periode atas jenis barang hasil produksi pertanian pada tingkat harga produsen di petani dengan dasar periode tertentu. indeks harga ini digunakan untuk mengetahui fluktuasi harga barang yang dihasilkan petani. Indeks harga ini juga digunakan sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan sektor pertanian.

d.      Indeks Harga Implisit (PDB Deflator)

Indeks harga implisit menunjukkan tingkat harga barang dan/atau jasa dari waktu ke waktu. Data indeks harga implisit diperoleh dengan membandingkan PDB nominal (PDB harga berlaku) pada tahun tertentu dengan PDB riil (PDB harga konstan). Indeks harga implisit mewakili semua jenis harga yaitu harga konsumen, harga produsen, harga pedagang besar, harga eceran, dan harga lain sesuai dengan berbagai tingkat harga yang digunakan dalam penghitungan nilai produksi setiap sektor.

4.      Metode Penghitungan Indeks Harga

a.       Metode Indeks Harga Tidak Tertimbang

1)        Angka Indeks Harga

 

 

IHTT  = Indeks Harga tidak tertimbang

    = Harga-harga pada tahun yang diamati

    = Harga-harga pada tahun dasar

     = Jumlah

 

2)        Angka Indeks Kuantitas

 

 

IHTT   = Indeks Harga tidak tertimbang

    = Kuantitas pada tahun yang diamati

      = Kuantitas pada tahun dasar

    = Jumlah

 

3)        Angka Indeks Nilai

 

 

IHTT   = Indeks Harga tidak tertimbang

    = Kuantitas pada tahun yang diamati

    = Kuantitas pada tahun dasar

          = Jumlah

 

b.    Metode Indeks Harga Tertimbang

1)      Rumus Indeks Laspeyres

 

 

IL      = Indeks Laspeyres

   = Harga-harga pada tahun yang diamati

         = Harga-harga pada tahun dasar

      = jumlah barang pada tahun yang diamati

   = jumlah barang pada tahun dasar

   = Jumlah

 

2)      Rumus Indeks Paasche

 

 

IP      = Indeks Paasche

 = Harga-harga pada tahun yang diamati

       = Harga-harga pada tahun dasar

   = jumlah barang pada tahun yang diamati

   = jumlah barang pada tahun dasar

    = Jumlah

 

B.     INFLASI

1.      Pengertian Inflasi

Inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu, serta beredarnya uang yang berlebihan pada masyarakat

2.      Faktor Penyebab Terjadinya Inflasi

a.       Meningkatnya permintaan agregat (demand aspect)

b.      Kesenjangan antara jumlah uang yang beredar dan jumlah barang dalam masyarakat

c.       Rendahnya produsi barang dan/atau jasa sehingga pasokan barang terhambat

d.      Naiknya harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik

e.       Jumlah uang beredar dalam masyarakat bertambah karena penerbitan uang baru oleh otoritas moneter

f.       Adanya desakan kelompok tertentu untuk memperoleh kredit dengan bunga yang ringan

g.       Fluktuasi (naik turu) sektor luar negeri (ekspor/impor), investasi, tabungan dan pendapatan Negara.

3.      Jenis-jenis Inflasi

a.       Berdasarkan sumbernya

1)      Inflasi dari dalam negeri

Inflasi dari dalam negeri timbul akibat defisit anggaran belanja karena dibiayai melalui penerbitan uang baru.

2)      Inflasi dari luar negeri

Inflasi dari luar negeri timbul karena naiknya harga barang impor

b.      Berdasarkan cakupan pengaruh kenaikan harga

1)      Inflasi tertutup, yaitu kenaikan harga secara umum yang berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu secara berkelanjutan

2)      Inflasi terbuka, yaitu kenaikan harga barang yang terjadi secara keseluruhan atau agregat

3)      Inflasi tidak terkendali, yaitu inflasi yang tinggi sehingga harga barang terus berubah dan naik. Keadaan ini menyebabkan nilai uang merosot.

c.       Berdasarkan tingkat keparahan

1)      Inflasi ringan, yaitu inflasi yang masih di bawah 10% per tahun (tidak menimbulkan krisis ekonomi)

2)      Inflasi sedang, yaitu inflasi yang terjadi pada tingkat 10 – 30% per tahun. (dampak terhadap masyarakat berpenghasilan tetap)

3)      Inflasi berat, yaitu inflasi dengan tingkat keparahan 30 – 100% per tahun. (masyarakat enggan menabung)

4)      Inflasi tidak terkendali, yaitu inflasi yang menunjukkan tingkat keparahan di atas 100% (menyebabkan kehancuran ekonomi)

d.      Berdasarkan penyebabnya

1)      Inflasi tarikan permintaan (deman pull inflation) adalah inflasi yang terjadi karena bertambahnya jumlah barang dan/atau jasa yang diminta masyarakat, investor, atau pemerintah.

Dilihat dari segi :

Ø   masyarakat (bertambahnya jumlah barang/jasa yang tidak diikuti kapasitas produksi menyebabkan kelebihan kapasitas produksi)

Ø  Investor (bertambahnya investasi sektor swasta karena memperoleh kredit lunak)

Ø  Pemerintah (bertambahanya pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan pencetakan uang baru.

2)      Inflasi dorongan (cost push inflation), terjadi karena naiknya biaya produksi, yaitu biaya bahan baku dan gaji. Naiknya biaya bahan baku biasanya direspon perusahaan dengan menaikkan harga jual produk agar tidak mengalami kerugian. Naiknya gaji menyebabkan juga naiknya harga jual produk.

4.      Menghitung Inflasi

Rumus:

 

 

T = tahun atau bulan sekarang

T – 1 = tahun atau bulan sebelumnya

Maksut dari indeks harga T – 1 adalah sebelum tahun yang di cari, misalnya ada keterangan tahun 2002 dan 2003, tahun yang dicari adalah 2003 (T), maka tahun T – 1 –nya adalah 2002

 

Contoh :

Indeks biaya hidup tahun 2010 sebesar 181,5 , kemudian naik menjadi 195,3 pada tahun 2011. tentukanlah laju inflasinya !

Jawab :

5.      Dampak Inflasi

a.       Bagi masyarakat berpenghasilan tetap

b.      Bagi penabung (potongan perbulan akan lebih besar)

c.       Bagi debitur (orang yang meminjam uang) dan Kreditur (Orang yang meminjamkan uang)

d.      Bagi produsen (harga barang meningkat, maka keuntungan juga akan meningkat)

e.       Bagi perekonomian nasional :

1)      Menignkatkan suku bunga

2)      Menurunnya tingkat investasi

3)      Menurunnya daya saing produk nasional

4)      Defisit neraca pembayaran

5)      Mendorong penanaman modal bersifat spekulasi

6)      Menimbulkan kegagalan pelaksanaan pembangunan ekonomi

7)      Merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat

8)      Menimbulkan ketidakpastian ekonomi pada masa akan datang

6.      Cara Mengatasi Inflasi

a.       Kebijakan Moneter

1)      Kebijakan diskonto (Discount Policy)

Kebijakan diskonto yaitu kebijakan menaikkan suku bunga bank agar masyarakat menabung di bank.

2)      Operasi pasar terbuka (Open Market Policy)

Kebijakan pasar terbuka yaitu kebijakan menjual surat berharga.

3)      Cadangan kas minimum (Requirement Cash Ratio)

Kebijakan cadangan kas minimum yaitu menaikkan persentase cadangan kas minimum di bank umum. Kebijakan ini mengharuskan bank umum menahan uang lebih banyak sehingga mengurangi jumlah uang beredar.

4)      Kebijakan kredit selektif

Kebijakan kredit selektif yaitu kebijakan memperketat persyaratan  kredit.

b.      Kebijakan Fiskal

1)      Mengatur pengeluaran pemerintah

Kebijakan ini memungkinkan pemerintah mengatur dan/atau mengendalikan pengeluaran pemerintah negara. Pemerintah mengurangi permintaan barang dan/atau jasa sehingga harga stabil.

2)      Menaikkan tarif pajak

Kebijakan menaikkan tarif pajak bertujuan menambah penerimaan sektor pajak.

c.       Kebijakan nonmoneter dan nonfiskal

Upaya yang dapat dilakukan pemerintah sebagai berikut :

1)      Menambah kapasitas produksi melalui kebijakan pemberian subsidi dan premi

2)      Menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk mengendalikan harga suatu produk

3)      Melarang impor barang dari negara yang sedang mengalami inflasi

4)      Menjaga kestabilan tingkat upah melalui penetapan upah minimum regional

5)      Melakukan pengaturan distribusi barang, misalnya melalui operasi pasar

Mempermudah masuknya barang impor dengan menurunkan tarif impor

C.     PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG

1.      Uang

Uang adalah suatu benda yang diterima secara umum sebagai alat perantara untuk mempermudah tukar menukar dalam kehidupan ekonomi masyaratkat.

Uang dapat didefinisikan sebagai benda-benda yang disetujui oleh masyarakat sebagai alat perantaraan untuk mengadakan tukar-menukar/ perdagangan. Yang dimaksud dengan  disetujui . Dalam definisi ini adalah terdapat kata sepakat di antara anggota-anggota masyarakat untuk menggunakan satu atau beberapa benda sebagai alat perantaraan dalam kegiatan tukar-menukar.

Menurut R. J Thomas, uang ialah benda yang dengan mudah diterima oleh umum untuk pembayaran pembelian barang-barang, jasa dan kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang.

Menurut A. G. Hart, uang ialah suatu kekayaan yang menjadikan pemiliknya dapat membayarkan sejumlah utangnya dengan pasti tanpa ditunda.

Dapat disimpulkan, uang adalah alat pembayaran yang sah dan diterima oleh masyarakat.

2.      Syarat-Syarat Uang

 

Syarat teknis:

a)      Tahan lama, artinya tidak mudah rusak.

b)      Nilainya stabil, artinya nilai sekarang sama dengan nilai yang akan datang. Dengan demikian orang percaya bahwa penyimpanan uang tidak akan merugikan.

c)      Mudah dibawa

d)      Terdiri dari berbagai nilai nominal, artinya dapat dibagi-bagi sehingga dalam transaksi sekecil apapun tetap bisa dilakukan.

e)      Jumlahnya mencukupi dan tidak berlebihan.

Syarat psikologis :

bahwa uang harus bisa memuaskan keinginan orang yang memilikinya. Orang akan terlihat lebih tenang dan puas jika membawa uang daripada membawa barang.

3.      Fungsi Uang

a.       Fungsi Asli Uang

1)      Sebagai alat tukar

2)      Sebagai alat satuan hitung (pengukur nilai)

b.      Fungsi turunan uang

1)      Alat pembayaran yang sah

2)      Sebagai penimbun kekayaan

3)      Sebagai alat pemindah kekayaan

4)      Standar pencicilan uang

5)      Sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi

4.      Jenis-Jenis Uang

a.       Berdasarkan Bahan

Uang jika dilihat dari bahan untuk membuatnya terdiri atas dua macam sebagai berikut.

1)      Uang Logam

Uang logam merupakan uang dalam bentuk koin yang terbuat dari logam. Bahan pembuat uang logam antara lain aluminium, kupronikel, broze, emas, perak, atau perunggu. Biasanya uang yang terbuat dari logam mempunyai nominal yang kecil. Di Indonesia uang logam terdiri atas pecahan Rp25,00; Rp50,00; Rp100,00; Rp200,00; Rp500,00; dan Rp1.000,00.

2)      Uang Kertas

Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas). Uang kertas harus dibuat dengan bahan berkualitas tinggi yang tahan air, tidak mudah robek, dan tidak luntur. Uang kertas biasanya dibuat dalam nominal yang lebih besar sehingga mudah dibawa dan digunakan dalam transaksi sehari-hari.

Beberapa keuntungan penggunaan alat tukar (uang) dari kertas di antaranya :

a)      Penghematan terhadap pemakaian logam mulia

b)      Ongkos pembuatan relatif murah dibandingkan dengan ongkos pembuatan uang logam.

c)      Peredaran uang kertas bersifat elastis (karena mudah dicetak dan diperbanyak) sehingga mudah diseusaikan dengan kebutuhan akan uang

d)      Mempermudah pengiriman dalam jumlah besar

b.      Berdasarkan nilai

Nilai uang dapat dilihat dari 2 sudut pandang, yaitu

1)        Dilihat dari sudut pandang bahan pembuatnya

a)      Nilai Intrinsik

Nilai intrinsik adalah nilai uang berdasarkan bahan yang dipakai untuk membuat uang tersebut. Contoh untuk membuat uang logam Rp500,00 diperlukan logam perak seberat 1 gram, jadi Rp500,00 sama dengan harga 1 gram perak, dengan demikian Rp500,00 sama dengan 1 gram perak disebut nilai instrinsik

b)      Nilai Nominal

Nilai nominal adalah nilai uang yang tertera pada setiap mata uang. Contoh pada uang Rp 100.000,00 tertera angka seratus ribu rupiah. Maka dapat dikatakan nilai nominal uang tersebut sebesar seratus ribu rupiah.

Ada 2 istilah dalam nilai uang secara nominal, yaitu :

Ø  Bernilai Penuh (Full Bodied Money)

Uang bernilai penuh artinya uang yang nilai intrinsiknya sama dengan nilai nominalnya. Uang bernilai penuh biasanya terdapat pada uang logam mulia yang terbuat dari bahan emas atau perak.

Ø  Bernilai Tidak Penuh (Representatif Full Bodied Money)

Uang jenis ini nilai instrinsiknya lebih kecil dari nilai nominalnya. Contoh uang ini adalah uang kertas.

2)        Dilihat dari sudut pandang penggunaannya

a)      Nilai internal, yaitu kemampuan suatu mata uang apabila ditukarkan dengan barang. Contoh uang sebesar Rp. 50.000,00 mampu ditukarkan dengan 1 gram emas. Ini berarti daya beli uang Rp. 50.000,00 sebesar 1 gram emas.

b)      Nilai eksternal, yaitu kemampuan uang dalam negeri dibandingkan dengan mata uang asing

c.       Berdasarkan Lembaga yang Menerbitkan

Berdasarkan lembaga yang menerbitkan, uang dapat dibedakan sebagai berikut.

1)      Uang Kartal

Uang kartal adalah alat pembayaran sah yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara melalui bank sentral yang berupa uang logam dan uang kertas. Uang kartal di Indonesia dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan dicetak oleh Perusahaan Umum Per-cetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri). Uang kartal terdiri atas uang logam dan uang kertas.

2)      Uang Giral

Uang giral adalah alat pembayaran berupa bilyet giro, cek, dan pemindahan telegrafis yang dikeluarkan oleh bank kepada seseorang atau badan karena mempunyai simpanan rekening di bank yang bersangkutan. Uang giral diterbitkan oleh bank umum atau bank komersial.

a)      Bilyet giro merupakan surat perintah dari nasabah bank kepada suatu bank agar bank tersebut memindahbukukan sejumlah uang dari rekening nasabah yang bersangkutan pada rekening nasabah lain yang ditunjuk. Bilyet giro tidak dapat ditukar dengan uang tunai.

b)      Cek adalah surat perintah dari nasabah yang memiliki rekening giro pada sebuah bank agar bank tersebut membayar sejumlah uang secara tunai kepada pihak yang namanya tercantum dalam cek.

c)      Pemindahan telegrafis (Telegraphic Transfer) merupakan pembayaran yang dilakukan dengan pemindahan antar rekening pada suatu bank tertentu melalui telegram. Cara ini dipilih apabila jarak orang yang melakukan transaksi berjauhan

5.      Permintaan Uang

a.       Teori Permintaan Uang

Permintaan  uang  berkaitan dengan jumlah uang yang diminta masyarakat untuk alasan transaksi,berjaga-jaga,dan spekulasi.Pada perkembangannya muncul anggapan tentang teori permintaan uang menurut teori klasik,keynes,dan moderen.

1)      Teori Klasik

Teori klasik memfokuskan pada hubungan antara jumlah unag yang beredar dan nilai uang  atau tingkat harga.Salah satu contoh teori klasik yaitu teori kuantitas uang.Teori kuantitas uang di kembangkan oleh Irving Fisher. Teori ini menjelaskan perubahan jumlah uang beredar menimbulkan perubahan harga barang secara umum.

Scara matematis, rumus teori kuantitas uang sebagai berikut :

 

M x V = P x T

 

Keterangan :

M = Money (jumlah uang beredar)

V = Velocity Circulation of money (kecepatan peredaran uang)

P = Price (Tingkat harga-harga umum)

T = Volume of trade (Volume perdagangan)

 

2)      Teori Keynes

Teori Keynes dikembangkan John Maynard Keynes,ekonom asal Inggris.Teori ini juga di kenal dengan teori Liquidity Preference.Dalam teori permintaan uang ,Keynes menyatakan motif seseorang memegang uang tunai sbb.

a)      Motif Transaksi (Transaction Motive)

Keynes menekankan permintaan uang dipengaruhi transaksi yang  dilakukan setiap orang.Motif ini dipengaruhi  tingkat pendapatan.Semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang,semakin banyak jumlah barang dan atau jasa yang diminta.

b)      Motif Berjaga-jaga (Precautionary Motive)

Uang berfungsi sebagai alat menghadapi ketidakpastian ekonomi pada masa depan.Menurut Keynes, jumlah uang sebagai alat berjaga-jaga ditentukan besarnya transaksi yg diharapkan pada masa datang.

c)      Motif Spekulasi (Speculation Motive)

Keynes berpendapat uang berfungsi sebagai alat ukur kekayaan.Bentuk kekayaan tersebut  dapat menjadi investasi yaitu sumber untuk memperoleh keuntungan pada masa datang.Motif ini dipengaruhi tingkat suku bunga bank.Naik turunya tingkat suku bunga bank akan berpengaruh terhadap permintaan uang.

3)      Teori barang

Menurut teori barang, uang murni berasal dari barang. Oleh karena itu, daya beli uang tergantung dari permintaan dan penawaran, kegunaan marginal, serta biaya pembuatan uang tersebut.

a)      Teori logam

Teori logam (katalistik) menyatakan bahwa uang diterima masyarakat karena bahannya terbuat dari logam yang bernilai tinggi (pelopor oleh adam smith)

b)      Teori nilai batas

Teori nilai batas menyatakan bahwa uang diterima masyarakat karena adanya keperluan masyarakat akan barang dan adanya kepercayaan terhadap uang. (pelopor Carl Manger)

4)      Teori nominalis

Menurut teori nominalis nilai uang merupakan nilai yang tertulis pada uang tersebut. Nilai uang bukan ditentukan oleh nilai bahan, tetapi ditentukan oleh nilai nominal yang tertulis pada uang tersebut.

5)      Teori kuantitas

Teori kuantitas dipelopori oleh David Ricardo. Menurut teori ini, jumlah uang yang beredar ada hubungannya dengan tingkat harga. Artinya, perubahan jumlah uang beredar berkurang, maka harga-harga akan cenderung turun. Sebaliknya, jika jumlah uang beredar bertambah, maka harga-harga akan naik.

Secara matematis, jumlah uang beredar dirumuskan sebagai berikut :

M = K  .  P

M (money)       = jumlah uang beredar

K (Konstanta) = perbandingan konstan

P (price)                       = harga barang

Teori kuantitas mengandung kelemahan karena teori ini menganggap uang berfungsi sebagai alat tukar. Teori ini tidak menyadari bahwa uang bukan hanya untuk membeli barang, tetapi dapat juga diinvestasikan atau ditabung

6)      Teori Persediaan Kas

Teori persediaan kas dikemukakan oleh Alfred Marshall yang menyatakan bahwa nilai uang bergantung pada jumlah uang yang disimpan (ditahan) untuk persediaan kas dari sebagian pendapatan masyarakat. Persediaan kas tergantung jumlah pendapatan dan tingkat suku bunga di pasar. Jika di rumuskan secara sistematis :

M = K . P . Y

M (money)       = jumlah uang beredar

K (Koefisien)   = jumlah uang untuk persediaan kas

P (price)           = tingkat harga

Y                      = pendapatan

CONTOH SOAL :

Bila jumlah uang yang beredar Rp. 8.000.000,00 pendapatan riil yang dicapai perekonomian sebesar Rp. 40.000.000,00 dan k=0,2. Mengapa harga meningkat menjadi 2 kali lipat jika peredaran uang ditambah menjadi Rp.16.000.000,00?

Jawab :

M          =  k (PY)

8.000.000 = 0,2 ( P x 40.000.000)

8.000.000 = 8.000.000 x P

P = 8.000.000

      8.000.000

    = 1

Jika M ditambah menjadi Rp. 16.000.000 maka

P => Rp. 16.000.000 = 0,2 (P x Rp40.000.000)

                                     = 8.000.000 P

P = 16.000.000

       8.000.000

 P = 2

b.      Kurva Permintaan Uang

Orang akan menyimpan uangnya jika tingkat bunga lebih tinggi daripada keuntungan menggunakan uang dalam kegiatan ekonomi atau membeli aset lain. Jadi, jika tingkat bunga meningkat, permintaan atas uang akan turun. Sebaliknya, jika tingkat bunga turun, permintaan atas uang akan naik, ceteris paribus. Permintaan uang turun ketika tingkat bunga meningkat karena orang tidak tertarik menyimpan uang yang dimilikinya. Uang menjadi produktif karena digunakan untuk kegiatan ekonomi rill.

Permintaan uang dipengaruhi oleh tingkat bunga. Tingkat bunga dalam hal ini adalah tingkat bunga rill, yaitu  tingkat bunga setelah penyesuaian perubahan tingkat harga. Ini juga dilakukan untuk menghilangkan faktor inflasi.

Kurva permintaan uang memiliki slope negatif, karena jumlah uang yang diminta oleh masyarakat (dalam hal ini untuk disimpan sebagai alat penyimpan kekayaan atau ditabung) akan turun jika tingkat bunga meningkat dan naik jika tingkat bunga turun.

c.       Pergeseran Kurva Permintaan Uang

Selain tingkat bunga rill, ada faktor-faktor lain yang dapat menggeser kurva permintaan uang ke kanan atau ke kiri. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah nilai kekayaan masyarakat dan perubahan pendapatan nasional (termasuk produk nasional).

d.      Faktor yang mempengaruhi permintaan uang

1)        Tingkat pendapatan masyarakat bertambah

2)        Tingkat suku bunga bank yang naik atau tinggi

3)        Kekayaan masyarakat yang bertambah

4)        Berubahnya selera masyarakat terhadap barang dan/atau jasa

5)        Tingkat harga umum yang mengalami kenaikan

6)        Adanya fasilitas pembelanjaan secara kredit

7)        Sistem pembayaran yang berlaku dalam perekonomian

6.      Penawaran Uang

a.       Pengertian penawaran uang

Penawaran uang (money supply) adalah jumlah uang yang beredar. Dalam mempelajari penawaran uang harus dibedakan antara mata uang dalam peredaran dan uang yang beredar. Mata uang dalam peredaran adalah mata uang yang telah dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Sentral. Mata uang tersebut terdiri atas uang kertas dan uang logam. Dengan demikian, mata uang dalam peredaran sama dengan uang kartal. Adapun uang beredar, yaitu semua jenis uang yang berada di dalam perekonomian (mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral pada bank-bank umum).

Ø  Uang beredar secara sempit (Narrow Money)

Uang beredar secara sempit (M) adalah seluruh uang kartal (K) dan uang giral (G) yang tersedia untuk digunakan oleh masyarakat.

     Persamaannya :      M = K + G 

Ø  Uang beredar secara luas (Broad Money)

Uang beredar secara luas mencakup uang kartal, uang giral, serta deposito dan tabungan masyarakat di bank. Deposito dan tabungan disebut dengan istilah quasi money, yaitu sesuatu yang mendekati ciri dari uang.

             Persamaannya :    M = K + G + Uang Kuasi

                             M = M + Uang Kuasi

Ø  Uang inti (Reserve Money)

Uang inti (H) dapat didefinisikan sebagai :  saldo rekening koran atau giro milik bank-bank umum atau masyarakat pada Bank Indonesia (R) dan uang tunai yang dipegang bank-bank umum dan masyarakat (K).

             Persamaannya :      H = K + R

b.      Kurva penawaran uang

c.       Pergeseran kurva penawaran uang

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan Bank Indonesia dalam mengatur penawaran uang :

1)      Tingkat bunga

2)      Tingkat inflasi

3)      Tingkat produksi dan pendapatan nasional

4)      Kondisi kesehatan dunia perbankan

5)      Nilai tukar rupiah

 

GAMBAR PERGESERAN KURVA

Keputusan bank indonesia untuk menurunkan jumlah uang beredar karena faktor selain tingkat bunga dapat menggeser kurva MS1 ke kiri, menjadi MS3 dan sebaliknya menggeser kurva kurva MS1 ke kanan, menjadi MS2. gambar (b) menunjukkan kurva penawaran uang dalam praktik Bank Indonsia.

 

 Klik : Download format word

BAB V. KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL

 (Link download materi format word berada paling bawah pada artikel ini) A.     KEBIJAKAN MONETER 1.       Pengertian kebijakan moneter ...